Serangan Udara oleh Amerika Serikat di Iraq dan Syria Menargetkan Kelompok Bersenjata yang Didukung oleh Iran

By Nad

nusakini.com - Internasional - Amerika Serikat melaksanakan serangan udara terhadap kelompok bersenjata yang didukung oleh Iran di wilayah perbatasan Iraq dan Syria.

Menurut perwakilan Pentagon, serangan udara yang dijalankan pada hari Minggu (27/6) ini jatuh pada fasilitas operasional dan penyimpanan senjata sebagai balasan dari serangan drone terhadap pasukan Amerika Serikat.

Pentagon juga menambahkan bahwa Presiden Joe Biden menyetujui serangan itu untuk melindungi semua pasukan AS.

Pihak Pentagon tidak menginformasikan mengenai korban jiwa, namun kelompok pengamat melaporkan bahwa paling tidak lima anggota kelompok bersenjata terbunuh di Syria.

Observatorium Syria untuk HAM yang berpangkal di Inggris menyatakan bahwa beberapa anggota lain terluka akibat serangan pesawat perang AS.

Media berita nasional Syria, Sana melaporkan bahwa seorang anak menjadi korban meninggal dan paling tidak tiga orang terluka.

Ini adalah penyerangan udara kedua terhadap kelompok bersenjata yang didukung Iran yang disetujui oleh Presiden Biden sejak ia menjadi presiden pada bulan Januari.

Pasukan AS di Iraq beberapa kali diserang dengan drone dalam beberapa bulan terakhir. Iran mengelak tudingan bahwa mereka terkait dengan penyerangan tersebut.

Sekitar 2.500 pasukan AS berada di Iraq sebagai bagian dari koalisi internal untuk melawan kelompok jihad Negara Islam (ISIS).

Menurut Pentagon, serangan udara mengenai dua target di Syria dan satu di Iraq. Mereka mengatakan beberapa kelompok bersenjata dukungan Iran seperti Kataib Hezbollah dan Kataib Sayyid al-Shuhada menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut.

Pengaruh Iran di hubungan internal Iraq telah berkembang secara konsisten setelah invasi pasukan AS menjatuhkan Saddam Hussein pada tahun 2003.

Serangan ini diluncurkan saat Iran sedang mendiskusikan penghidupan kembali kesepakatan nuklir 2015, yang mengangkat sanksi terhadap Iran sebagai ganti untuk menghentikan pekerjaan nuklir.

Beberapa negara adidaya mencurigai Iran memiliki ambisi untuk membangun bom nuklir, namun perkataan ini dibantah keras oleh Iran. (dd)